stasiun hikari cinta

Di sebuah kota kecil yang selalu diselimuti kabut tipis setiap pagi, ada sebuah stasiun tua bernama Stasiun Hikari. Kereta jarang berhenti di sana, tapi bagi sebagian orang, tempat itu menyimpan kenangan yang tak tergantikan.
Aira adalah gadis SMA yang hampir setiap hari datang ke stasiun itu sepulang sekolah. Bukan untuk bepergian, tapi untuk menunggu seseorang.
Dua tahun lalu, di bangku yang sama, ia bertemu dengan seorang cowok bernama Ren. Saat itu hujan deras, dan kereta terakhir dibatalkan. Mereka terjebak bersama di stasiun kosong itu. Awalnya canggung, lalu perlahan mereka mulai berbicara—tentang mimpi, tentang masa depan, tentang hal-hal kecil yang terasa besar saat dibagikan.
Sejak hari itu, mereka selalu bertemu di sana.
dan tersenyum setiap pukul 17:17. Katanya, itu waktu “keajaiban kecil” di mana harapan bisa jadi nyata.
Namun suatu hari, Ren menghilang.
Tidak ada pesan. Tidak ada penjelasan. Hanya sebuah tiket kereta yang tertinggal di bangku, dengan tujuan kota yang jauh.
Aira tetap datang.
Hari demi hari. Bulan demi bulan.
Sampai suatu sore, tepat pukul 17:17, kereta lama berhenti di stasiun itu—padahal jadwalnya tidak ada. Pintu terbuka, dan dari dalam keluar seseorang yang sangat ia kenal.
Ren.
“Aku janji kan… bakal balik di waktu yang sama,” katanya sambil tersenyum, seperti dulu.
Ternyata, Ren harus pindah mendadak karena alasan keluarga. Ia tak sempat pamit. Tapi setiap hari, di kota barunya, ia juga melihat jam di pukul yang sama—dan percaya suatu hari akan kembali.
Stasiun itu menjadi saksi bahwa jarak bukan akhir dari cerita.
Sejak saat itu, pukul 17:17 bukan hanya “keajaiban kecil” bagi mereka, tapi awal dari cerita baru yang lebih kuat—tentang dua hati yang dipisahkan waktu, tapi tetap bertemu di satu tempat: stasiun cinta.

Komentar
Posting Komentar